Dokter Djafar Siregar Gelar Tongkoe Soetan Diapari, Dokter Yang Menjadi Ketua Biro Irian-Barat
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak hanya para pejuang bersenjata yang berperan, tetapi juga banyak tokoh berlatar belakang kedokteran yang turut serta dalam perjuangan. Mereka tidak hanya merawat para pejuang yang terluka di medan perang, tetapi juga terlibat dalam berbagai strategi politik untuk mempertahankan kemerdekaan. Salah satu sosok yang menonjol dalam gerakan ini adalah dr. Djafar Siregar, seorang dokter yang juga aktif dalam politik dan pemerintahan.
Dalam buku Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indie tahun 1941 tercatat nama lengkapnya adalah dr. Djafar Siregar gelar Tongkoe Soetan Diapari, menjadi salah satu Volkgezondheid (Dokter Kesehatan Masyarakat) di Jambi.
Berdasarkan catatan dalam buku Kami Perkenalkan (1952), yang berisi biografi singkat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) Republik Indonesia, dr. Djafar Siregar lahir di Desa Bunga Bondar, Sipirok, pada 19 Oktober 1910. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Surabaya, dan lulus pada tahun 1939.
Setelah meraih gelar dokter, dr. Djafar memulai kariernya sebagai dokter pemerintah. Namun, seiring dengan dinamika perjuangan kemerdekaan, ia tidak hanya berperan di bidang kesehatan, tetapi juga di ranah politik. Ia menjadi anggota DPRS mewakili Partai Syarikat Kerakyatan Indonesia (SKI), sebuah partai politik yang berjuang untuk kepentingan rakyat kecil.
Pada tahun 1948, di tengah masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, dr. Djafar dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat di Yogyakarta. Setelah agresi militer Belanda yang kedua, ia diangkat sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Kota Yogyakarta, sebuah posisi strategis di tengah situasi negara yang masih berjuang melawan kolonialisme. Tidak berhenti di situ, ia kemudian ditugaskan sebagai Inspektur Kesehatan untuk wilayah Sumatera Timur dan Tapanuli, dengan kantor pusat di Sibolga.
Seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Indonesia dan Belanda mengenai status Irian Barat pada tahun 1950-1953, pemerintah Indonesia semakin gencar memperjuangkan pembebasan wilayah tersebut dari cengkeraman kolonial. Presiden Soekarno, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 201 Tahun 1953, membentuk Biro Irian Barat, sebuah lembaga yang bertugas mengoordinasikan strategi perjuangan diplomasi, politik, dan militer untuk mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia. Dalam upaya besar ini, dr. Djafar Siregar Diapari dipercaya sebagai Ketua Biro Irian Barat, sebuah posisi yang menunjukkan betapa besar peranannya dalam perjuangan nasional.
Perjalanan hidup dr. Djafar Siregar menjadi bukti bahwa perjuangan untuk kemerdekaan dan kedaulatan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui diplomasi, kesehatan, dan politik. Sebagai seorang dokter, politisi, dan pejuang, ia mendedikasikan hidupnya untuk bangsa, menjadikan dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Namun, seperti banyak pahlawan lainnya, namanya masih belum banyak dikenal oleh generasi masa kini. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mengenang dan menghargai jasa-jasa beliau dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Posting Komentar untuk "Dokter Djafar Siregar Gelar Tongkoe Soetan Diapari, Dokter Yang Menjadi Ketua Biro Irian-Barat"